Hanya Memastikan

Kali ini aku mengenakan setelan serba hitam, lengkap dengan kaca mata hitam. apa yang kulakukan?

Kau benar, aku sedang membuntuti seseorang—memata-matai. being a stalker.

Aku sedang membuntuti seorang gadis, tepatnya. dulu aku kekasihnya, dan sekarang aku tidak tahu ia sedang dekat atau bahkan sedang menjadi pacar siapa. karena itulah, aku melakukan hal ini, sekadar ingin tahu—hanya untuk memastikan.

Ah, itu dia.

Seorang gadis dengan rambut yang tergerai hitam sepunggung, mengenakan sweater rajut berwarna marun dan celana jeans biru pudar. siluetnya sangat kukenal dengan baik. tentu saja, tubuh itu yang biasanya kupeluk. tapi sekarang hal itu hanya sebuah ingatan saja, karena kami berpisah beberapa bulan yang lalu, dengan deri air matanya yang banjir saat aku memutuskan untuk meninggalkannya. ada suatu hal yang harus kulakukan, yang demi masa depan dia juga.

Gadis cantik itu kini sedang berada di sebuah taman ria, bersama seorang pria. sepertinya lelaki itu seumuran denganku. wajahnya tampak sumringah, ia memandangi gadisku dengan penuh cinta. dan gadis itu juga menatapnya dengan antusias, ia bahkan menyimak setiap gerakan bibir laki-laki itu tiap kali bicara.

Hatiku terasa sedikit tergores. Rasanya seperti dicolek silet. belum terbuka guratannya, tapi aku tahu ada luka di sana.

Bayangkan saja, kini ia bersama laki-laki lain—yang sepertinya, sangat ia cintai.

Aku menahan napasku, lalu berbalik menjauhkan pandangan dari kedua orang yang saling jatuh cinta itu. saat itu pula seseorang berbaju serba putih berdiri kokh di hadapanku.

“Apa yang kau lakukan di sini? sembunyi?” Tanyanya.

“Bukan sembunyi, aku hanya membuntuti.” aku menjawab sambil membuang muka. “aku hanya ingin memastikan ia dengan siapa sekarang.”

“Oh..” Laki-laki tegap itu memandang ke arah gadi itu, tersenyum. “Tapi untuk apa kau berlagak seperti memata-matai begini? bergaya seperti seorang detektif yang mengintai diam-diam.”

“Untuk apa?”

“Ya, untuk apa? toh tidak akan ada orang yang melihatmu meskipun kau berjalan di sampingnya.”

Aku menunduk. astaga, aku lupa. tentu saja, seharusnya aku tidak perlu diam-diam begini. memang betul, tidak akan ada yang bisa melihatku dengan keadaan sekarang. karena sejak aku meninggalkannya beberapa bulan yang lalu, aku juga meninggalkan dunia ini. dan saat ini, aku hanya kembali sebentar untuk memastikan: apakah ia masih sedih karena kepergianku, ataukah sudah menemukan kebahagiaan yang baru.

Aku berharap yang kulihat adalah opsi yang kedua—meskipun hal itu akan membuatku merasa sakit, tepat seperti apa yang kali ini kulihat.

“Sudahlah, waktumu sudah habis. Ayo kita kembali ke sana.” ujar pria itu. aku mngangguk, kemudian menatap punggung gadis itu sekali lagi, meskipun sakit rasanya, tapi aku senang dia sudah menemukan napas dalam hidupnya kembali.

park

Salah Paham

Gadis: LO IN A RELATIONSHIP? (membelalak)
Lelaki: apaan sih gitu aja ribut.
Gadis: Dari kapan?! Sama siapa?! Kok lo gak ngasih tahu sih?!
Lelaki: (berdecak) itu pertanyaan apa kereta api sih?
Gadis: Pertanyaan, dan semuanya harus lo jawab.
Lelaki: Ah, udahlah. gak usah dibahas.. lo juga nanti tahu kok.
Gadis: Gimana gue bisa tahu? lo gak pernah cerita dan gue gak pernah lihat lo jalan sama siapaaa gitu.
Lelaki: kenapa sih? lo cemburu?
Gadis: (pura-pura sewot) Enak aja! (wajahnya bersemu merah)
Lelaki: ya udah kalau gitu--..
Gadis: Eh, jangan pergi dulu. dari kapan sama siapa-nya jawab dulu donk!
Lelaki: (diam sejenak) lo tuh emang agak lamban ya.
Gadis: maksudnya?
Lelaki: apa gue bener-bener mesti ngasih tahu lo secara langsung?
Gadis: (mengangguk mantap)
Lelaki: Oke. gue in a relationship sejak dua tahun yang lalu, sejak kenalan sama lo. sama siapa--ya sama lo. terlepas dari lo setuju atau nggak.
Si Lelaki lalu tersenyum sambil mengacak-acak rambut Sang Gadis, kemudian membiarlkan Sang Gadis tenggelam dalam wajahnya yang merah padam.

Pesan di Balik Huruf

Aku tidak tahu, aku punya seorang sahabat lelaki yang sering salah kirim SMS. Namanya Ingram. jelek banget emang kebiasaannya. biasanya ia selalu mengirim satu huruf dan (mungkin) kepencet tombol send sehingga sampai pesannya cuma satu huruf.

menuh-menuhin inbox kan?

aku sudah protes berkali-kali padanya, tapi ia selalu beralasan ‘maaf, maaf, kebiasaan. teledor gue.’

Ngek. teledor kok berkali-kali.

contohnya seperti ini:

L

From: Ingram

+62813220445566

selanjutnya datang satu SMS utuhnya:

Lo dimana, mbres? makan yuk laper.

From: Ingram

+62813220445566

Dan halooo, namaku Kadita, tapi dia memanggilku dengan sebutan ‘Mbres’. sampai sekarang, kenapa ia memanggilku seperti itu, masih jadi misteri asal-usulnya.

atau SMS lainnya:

V

From: Ingram

+62813220445566

dan beberapa detik kemudian sampailah:

Vega tutup, mbres. gue balik kampus sekarang. jangan balik dulu hey.

From: Ingram

+62813220445566

Oke, jadi gue selalu bertanya-tanya kapan dia akan menghilangkan kebiasaan buruknya itu. “Pulsa SMS kan gak gratis, Ram.”

“Ya terus?” Ingram menanggapi dengan asal sambil merogoh Chitato yang kupegang sejak tadi.

“Boros donk pulsa lo. kebiasaan lo tuuh..”

“Yaelah, udah kali Mbres. pulsa gue ini.” ia mengalihkan pandangannya dariku. “Lo emang bener-bener gak ngerti seni dari salah SMS ya?”

aku memicingkan mataku bingung. “Seni kok seni salah SMS. itu menuhin inbox gue yang ada.”

Ingram mengangkat bahu. “Terserah lo, tapi gue kalo kepencet tombol send ya berarti emang itu isi SMS-nya.”

“Isi SMS gak tuntas maksud lo?”

“Yah apapunlah,” ia lalu mengacak-acak rambutku dan berlalu masuk ke dalam kelas. sebentar lagi kuliah memang dimulai, tapi aku masih lebih betah di luar kelas daripada di dalam.

Iseng, aku membuka inbox-ku yang penuh dengan pesan potongan huruf dari SMS gantung itu. 398 messages. gila. mesti aku hapus kalau begini ceritanya sih.

apa-apaan sih Ingram nih… SMS kok isinya… H.. C… U.. M..

loh? kayanya da sesuatu deh dari huruf-huruf itu. singkatan kah?

H

C

U

M

O

S

U

O

Y

E

V

O

L

I

S

E

R

B…

dan M.

..

ASTAGA!

Aku segera membacanya sekali lagi. untung SMS-SMS itu belum kuhapus!

Aku menganga membacanya. sedetik kemudian, llidahku kelu. aku yakin wajahku memerah saat itu.

jantungku hampir copot saat satu pesan kuterima lagi.

Udah tahu artinya, Mbres?

From: Ingram

+62813220445566

aku segera mencari batang hidungnya di dalam kelas. aku melihatnya tersenyum ke arahku sambil melambaikan HP-nya. dari semua gesture yang ada di dunia ini, aku hanya bisa membungkam mulutku dengan kedua telapak tanganku.

Astaga, ternyata selama ini ia berusaha mengirimkan pesan itu kepadaku!

**

oops

PS. baca dari bawah ke atas.

…Wish I Were Him.

I wish I were him.

Karena ia bisa memiliki Sandra, gadis—yang menurutku—terindah di muka bumi ini. Karena gadis itu tidak hanya berparas jelita, pembawaannya yang begitu anggun, dibalut senyuman yang selalu tulus terlontar dari bibirnya.

I wish I were him.

Karena ia bisa memiliki gadis itu sebagai kekasihnya, dan saling percaya bahwa gadis itu juga mencintainya. Lihatlah itu, lelaki itu dengan bangga menggenggam tangan Sandra kemanapun ia pergi. Tersenyum bahagia saat memperkenalkan pemilik hatinya kepada semua temannya. Sorot mata laki-laki itu tidak bisa berbohong, bahwa ia merasa sangat jumawa bisa menjadi pelindung Sang Dewi yang elok.

I wish I were him.

Karena aku bahkan hanya bisa menjadi temanmu, Sandra. Karena aku tidak seperti dia yang begitu istimewa untukmu, begitu gagah di matamu, dan bertahta di hatimu. Lihatlah aku, aku bahkan tidak akan pernah bisa memilikimu dengan keadaanku yang seperti ini—jauh jika dibandingkan dengan semua yang dimiliki oleh pacarmu. Aku begitu pengecut, aku bahkan takut jika kau sampai tahu kalau aku diam-diam menaruh hati padamu—jatuh cinta padamu, lebih tepatnya. Aku hanya takut semua itu membuatku kehilanganmu, Sandra.

Kalau kau sampai mengetahui hal itu, kau pasti akan sangat membenciku—dan tidak akan mau mengenaliku lagi selamanya.

Andai aku adalah pria itu, Sandra, yang bisa mendapatkan cintamu seutuhnya.

“Git, Gita! Kok lo ngelamun sambil ngeliatin Sandra sih? Cabut makan siang yuk! Gue laper nih!” Tiba-tiba suara Mira, teman sekelasku, membuyarkan lamunanku.

 i see you

DOKTER ITU PEMBOHONG

Sudah sekitar lima hari terakhir, dadaku ini langganan terasa sesak. Bukan, bukan karena jatuh cinta. Sampah. Tapi mungkin karena udara Bandung yang akhir-akhir ini begitu dingin—ditambah tempat tinggalku di daerah Bandung Utara yang (semakin dingin)—rasanya menusuk-nusuk dadaku. Padahal biasanya tak sedingin ini.. atau karena Bandung baru dingin akhir-akhir ini?

“Bukan woy, tapi gara-gara kebanyakan ngerokok sih kamu, Gas. Sehari bisa abis tiga bungkus kan itu keterlaluan.”

Begitu komentar Andro, salah satu asisten di Lab. Transport UTG. Aku terdiam, memandangnya dengan tajam—setajam silet—dari meja kerjaku, padahal dia sendiri tidak menyadari kalau aku sedang menatapnya.

Tiga bungkus sehari? Yah, tidak sebegitunya sih, dua setengahlah, mengingat setengah bungkus dirampok teman-teman sejawat.

“Tapi itu kan buat menghangatkan badan, Ndro,” belaku. Andro mendelik ke arahku. Sekitar 3 detik menatapku dengan tatapan ‘sesukamulah’. Lalu matanya kembali menuju ke arah layar komputer.

“Menghangatkan badan itu pelukan kali, Gas, bukan ngerokok.”

“Pelukan sama siapa?”

“Sama aspal. Ya sama oranglah. Cari cewek sana, inget umur woy.”

Umur?

Hmmm, jadi terpikir sedikit data diriku di otak.

Nama: Ragasta Cakranagara.

Usia: 28 tahun.

Pekerjaan: Dosen UTG.

Status: Singel.

 

“Kapan nikah, A?” teh manis yang tapinya akan kuminum memuncrat dari mulutku karena kaget, saat mendengar pertanyaan dari ibuku via telepon.

“Ya ampun, calonnya aja belum ada kali, Mah.” Aku langsung menaruh cangkir teh itu di atas meja dan meraih sebatang rokok dari sampingnya, aku bermaksud menyalakannya.

“Ah, kamu nih. Pasti kamu sekarang lagi ngerokok kan? Kalo kamu udah nikah, pasti ada yang marahin kamu buat berhenti ngerokok.”

Aku lalu mengurungkan niatku untuk merokok. “Siapa yang ngerokok, Mah. Lagi minum teh ini, masih pagi kan.” Hey, haloo, aku tidak berbohong kan?

“Sehat, A?”

“Sehat Mah, tapi gara-gara dingin, dadaku suka sesak. Alergi kali ya? Atau Aa punya turunan asma?”

“Gak ada sejarahnya keluarga kita asma, A. Kebanyakan ngerokok kali kamu. Periksa ke dokter gih.”

Eaaa, rokok lagi. “Males Mah, nggak apa-apa kok. Ini Cuma gara-gara dingin aja.”

“Siapa tahu dokternya cantik.”

Dokternya cantik? Haha, mungkin iya, kalau sekarang adalah 30 tahun yang lalu. Karena dokter langgananku adalah seorang dokter yang sudah berumur, jutek, dan kesal setengah mati karena aku yang gelian. Dia selalu marah kalau aku bergerak-gerak menahan tawa saat diperiksa. Hal itu pula yang membuatku malas setengah mati ke dokter langgananku di rumah sakit XX itu.

 

Read More

Self-ish.

Ya ampun, indahnya wajah itu. luar biasa lembut garis wajahnya, membuatku terpesona. bahakan mataku tak pernah bosan menatap wajah itu. ya, seperti lukisan yang hanya pantas di pajang di baligo terbesar yang ada di metropolitan.

Kalau dibandingkan dengan Keira Knightley, mungkin bisa kunilai 11-12. Sebab, tidak akan ada pria yang sanggup untuk tidak bertekuk lutut di hadapannya, bahakan pemilik wajah itu cukup menjentikkan jarinya ke pada salah satu di antara mereka, maka terhanyutlah mereka dalam genggamannya.

Tubuh itu, jangan kau bayangkan dia adalah seorang gadis dengan tubuh yang lebar—jauh dari itu, sangat sempurna. mungkin hanya model-model papan atas yang bisa disandingkan dengan kemolekan tubuh itu. semua siluet pakaian yang ia kenakan membuatnya semakin tanpa cela.

Senyum dari wajah itu… entahlah, itu membuatku tergila-gila, bahkan jatuh cinta. senyum itu sangat berharga bagiku—senjata utama baginya, untuk menaklukan para lelaki. Senyum menggoda yang terlihat tulus, namun banyak makna di dalamnya.

Astaga, dia sangat sempurna. Tiada cela. Membuatku jatuh cinta—setiapa kali aku menatap diriku di hadapan cermin.

mirror

"Saat gadis itu membuka matanya, tiba-tiba ia mendapati dirinya melayang di langit, di antara awan. Sedetik kemudia ia sadar, ia baru saja terlempar dari sebuah ledakan pesawat."

-the end.

Ksatria Penyelamat

Nera. 22.45. Kampus. Hari ini.

Ah, ya ampun, sudah jam segini saja.

Inilah kan, beres rapat himpunan selalu beres malam. Bahkan, ini sebetulnya yang paling ‘pagi’. Rapat proker kemarin bahkan sampai jam 12 malam.

Aku menghembuskan napas panjang, dan aku bisa melihat uap mengepul di sekitar hidungku. Ya, mala mini begitu dingin, dan aku harus pulang sendiri hari ini. Bukan karena teman-temanku tidak mau mengantarku, tapi merek sudah ada acara sendiri—menjenguk salah satu rekan seangkatan kami yang ada di rumah sakit. Aku tidak ikut, karena tadi sore aku sudah ke sana, dan sekarang aku harus segera sampai ke rumah.

Aku lalu berjalan menyusuri lorong grdung jurusanku, menuju ke gerbang depan kampusku—berharap masih ada angkutan kota yang lewat jam segini. Harapannya 80%.. 80% gak ada yang lewat maksudnya. Haha, aku cuma bisa tersenyum miris saat berdiri di depan gerbang kampus sendirian, dengan ditemani beberapa orang satpam yang sedang menonton pertandingan bola di televise pos jaganya.

10 menit…

20 menit…

Resmi nih, aku bakalan menunggu teman-temanku pulang dari rumah sakit dan meminta mereka mengantarkanku pulang. Kalau tahu begini jadinya sih, lebih baik aku ikut saja ke rumah sakit tadi. Huff…

Aku merapatkan jaket himpunan yang melekat di badanku, lalu memutuskan untuk kembali ke himpunan saja. Daripada aku berjamur menunggu kepulangan teman-temanku di sini, sendirian.

Saat aku baru saja melangkah masuk kembali ke kampus, tiba-toba seseorang memanggilku.

“Ner! Nera!”

Suara yang familiar di telingaku. Aku menoleh—terima kasih  Tuhan—itu adalah Aga, salah satu seniorku yang baru saja lulus bulan kemarin. “Hey, Ga!” aku segera berlari menghampirinya yang berada di atas motor.

“Lo ngapain di sini? Sendirian pula. Gak balik lo?” tanyanya sambil membuka helmnya.

“Gue lagi nunggu angkot tadinya. Justru, gue mau pulang—gak ada angkot. Jadi gue mau balik lagi ke himpunan, biar nunggu anak-anak nganterin gue pulang.” Aku menjawab sambil cengengesan. Merasa senang akhirnya bertemu dengan manusia yang kukenal di malam hari seperti ini.

“Buset, nungguin anak-anak balik mah pasti lama, apalagi mereka kayanya makan malem sekalian.” Aga berkomentar.

“Iya makanya.. Eh, kok lo ada di sini? Lo gak ikut jenguk ke rumah sakit?”

“Iya, gue baru dari kosan temen gue tadi, ngambil barang ketinggalan bentar, terus kebeneran pulangnya lewat sini dan ada lo nangkring sendirian di sini.” Ia memperhatikanku sebentar, lalu tersenyum mengejek. “Lo mau gue anterin pulang aja gak? Daripada tar lo nunggu di kampus ada yang nyulik, dikira bocah hilang jam segini.”

Sial! Dia meledekku!

Tapi spontan aku langsung menjerit, “MAU!”

Ini kebetulan sekali! Aku tidak usah pulang naik angkot sendirian, atau pulang lewat tengah malam lagi karena menunggu orang yang kiranya sudi mengantarku pulang. Aga tertawa, lalu ia menyodorkan satu helm lagi ke arahku. Dengan semangat, aku segera memakainya dan melompat naik ke atas motor Satria milik Aga.

Aku cukup dekat dengan Aga, aku merasa dia adalah senior yang menyenangkan, karena semenjak aku pertama kali kenalan dengannya di saat ospek jurusan, dia selalu menjadi orang yang bercerita mengenai menyenangkannya menjadi mahasiswa. Dan satu lagi nilai plusnya.. cukup terakreditasi di mataku—ganteng maksudnya!

Jadilah ia mengantarku dengan selamat sampai di depan rumahku, dengan berbagai percakapan yang seru selama perjalanan. Ini benar-benar kebetulan yang menyenangkan!

 

Aga. 12.32. Kampus. Dua tahun yang lalu.

Aga memperhatikan sekelompok mahasiswa jurusannya yang baru, yang kini sedang disuruh berdiskusi tentang beberapa isu masyarakat—untuk nanti dipresentasikan di forum. Matanya kini tertuju pada seorang peremuan yang mengenakan baju angkatan yang kebesaran, mengenakan celana jeans belel lengkap dengan sepetu keds biru tua yang cukup eye-catching. Ia tersenyum memperhatikan gerak-gerik perempuan itu, yang begitu anomali di tengah-tengah kelompoknya yang begitu aktif membahas isu yang diangkat—ia malah asyik menggambar di selembar kertas yang ia sobek dari buku catatannya.

Aga lalu berbisik pada teman yang sedang berada di sampingnya, sang coordinator acara, “Dri, cewek yang sepatunya biru itu siapa namanya?”

Temannya mencari posisi gadis yang ditanyakan, lalu berusaha mengingat namanya. “Hmm.. namanya Nera kalo gak salah.” Ia mencari nama gadis itu di kertas absen. “Iya, Nera Maraglia. NIM 108. Kenapa emangnya?”

“Nggak apa-apa kok,” Aga tersenyum sambil terus menatap gadis itu. “Dia cantik.”

 

Aga. 19.20. Kampus. Hari ini.

“Rapat proker mau beres jam berapa hari ini, Fan?” Tanya Aga pada Irfan, sang Ketua Departemen.

Irfan melirik kea rah jam dinding di himpunannya, “Hmm, jam sebelaslah—kalau bisa sih kurang. Mau ngejenguk Bella yang di rumah sakit. biar masih keburu.”

Aga mengernyitkan keningnya. “Siapa aja yang ke sana?”

“Semua, kayanya. Kita belum pada jenguk soalnya. Yang udah jenguk baru Nera, tadi sore. Kita juga tahunya dari dia kalau Bella masuk rumah sakit.” jawab Irfan sambil menghapus whiteboard yang akan ia pakai untuk rapat sebentar lagi.

Aga berpikir sejenak. Itu berarti Nera tidak akan ikut ke rumah sakit. itu berarti Nera akan pulang jam segitu. Itu berarti Nera tidak akan ada yang mengantar pulang. Pandangan Aga lalu terlempar ke arah seorang gadis yang sedang mengobrol dengan teman-temannya di depan himpunan, lengkap dengan jaket himpunan dan tas punggungnya yang berwarna hitam. Gadis itu terlihat sangat ceria dan bersemangat, dan cantik—sama seperti saat ia melihatnya dua tahun yang lalu.

Sambil melangkah keluar himpunan, Aga lalu tersenyum penuh arti. Inilah kesempatannya, untuk memulai semuanya. Nanti malam, sekitar jam sebelas. Dimulai dengan sedikit kebetulan yang disengaja, ia akan menjadi ksatria penyelamat untuk sang gadis.

night

Your word is my Comment.

Dear readers,

Now that I have applied a Disqus feature on this Kamukayakuya, you can post a comment—or opinion—for my writings.

Just click on the ‘comments’ below every of my writings, then you can just type your opinion about it, inside the box.

Your word is my Comment, and I hope you post anything there, I’d really appreciate it :)

Thanks so much!

Sepi

Sudah sekitar sebulan ini, kerjaanku hanya jalan-jalan kesana kemari. Sama seperti siang hari yang terik ini, aku mengetuk satu pintu ke pintu lain—seperti seorang salesman yang menawarkan barang dagangannya. Tapi sayangnya, tak ada yang menyahut. Bukan, aku bukan mengetuk untuk mengemis atau meminta makan. Aku hanya ingin menemui mereka, tetangga-tetanggaku, yang dulu selalu ada menemaniku setiap kali aku pulang kampung.

Ini sudah rumah kedua belas—dan masih belum ada yang menanggapi, apalagi mempersilakanku masuk ke dalam. Oh ya ampun, aku benar-benar sudah kelelahan. Aku lalu mengeluarkan sisa bekal makananku di ransel yang sudah lusuh, tinggal ada dua potong roti lagi, dan setengah botol air mineral. Cukup untuk hari ini, dan setelah itu, aku harus mengambil lagi ke toko.

Mengambil, ya, mengambil—aku tidak perlu membelinya lagi sekarang. Sebulan terakhir ini.

Rumah ketiga belas, dan aku mematung di depan papan namanya. Karasawa, itu adalah nama keluargaku. Singkatnya, ini adalah rumahku. Aku kemudian menarik napas panjang dan mencoba mengetuk pintu sekali lagi, walaupun rasanya jari-jariku sudah kapalan terantuk papan pintu.

Dok! Dok! Dok!

Tidak ada jawaban.

Aku menunggu beberapa saat, lalu kuulangi lagi, “Ayah! Ibu! Ada orang di dalam?” aku memanggil cukup keras dari luar dan ternyata hasilnya masih nihil. Jangankan ada yang menyahut, sepinya seperti kuburan, sama seperti rumah-rumah sebelumnya. Aku celingak-celinguk melihat keadaan sekitar yang sunyi senyap. Pandanganku lalu jatuh ke arah pegangan pintu yang ada di hadapanku, dan saat kutahu bahwa pintu itu tidak terkunci, aku membukanya pelan-pelan dan menyelinap masuk. Haha, mengendap-endap ke dalam rumah sendiri, konyol rasanya.

Rumah ini ternyata tidak menunjukkan tanda-tanda kehadiran penghuninya di sana. Aku tidak begitu tahu kemana mereka pergi sekarang—Ayah, Ibu, dan kedua adikku. Yang jelas aku berharap mereka berada di tempat yang lebih baik daripada di sini. Kampung halaman yang sepi, dimana tidak seorangpun bisa kutemui—terlepas dari penampilanku yang lusuh dan terlalu lecek untuk dikira salesman (dan mereka tidak mau membukakan pintu, tapi aku tahu itu tidak mungkin).

Langkahku terhenti saat memperhatikan foto keluargaku yang terpajang di dinding, satu potret keluarga yang berbahagia, diambil pada saat kelulusanku dari Universitas Tokyo, dua tahun yang lalu. Aku tersenyum, tapi sayangnya, miris. Perih rasanya, saat aku mengetahui bahwa gelar itu menjadi sia-sia saat ini. Gelarku tak berguna untuk melakukan apapun saat terjadinya tragedi itu. Aku lalu meraih foto itu dan mendekapnya dengan kuat di dadaku.

Sungguh, aku merindukan mereka. Aku rindu keluargaku.

Pikiranku melayang-layang ke saat kami masih berada di rentang waktu saat foto itu ditangkap, sehari sebelumnya, dan hari-hari sebelumnya. Alangkah bahagianya kami, dan yang pasti, semua orang di dunia ini sangat bahagia—sebelum terjadinya tragedi yang menakutkan itu. Tanpa kusadari, ternyata air mataku menetes jatuh. Sedetik kemudian, aku menangis sejadi-jadinya—aku tidak peduli, toh tidak akan ada yang mendengarnya, apalagi protes karena terganggu dengan suara tangisanku ini. Aku merasa sangat kesepian sekarang. Sangat kesepian.

Tuhan, terima kasih telah mengabulkan permintaanku untuk selamat dari tragedi itu. Terima kasih karena telah menjadikan doa mereka di setiap ulang tahunku—semoga panjang umur. Tapi Tuhan, bolehkah aku memintamu satu permintaan lagi?

Kumohon, ciptakanlah satu orang teman untukku, karena aku tak kuasa hidup menjadi satu-satunya manusia terakhir di Bumi seperti sekarang ini. Amin.

lonely

Tidak Bisa Hilang

Sudah sekitar setengah jam aku berdiri di depan batu nisannya. Dia yang telah meninggalkanku setahun yang lalu. Mataku terpejam, gigiku rasanya sebentar lagi rontok semua, tanganku kebas. Inilah yang selalu kurasakan di saat-saat seperti ini. Kerinduan yang membuncah.

Tuhan, aku sangat merindukannya.

“Sudah berapa lama kau berdiri di situ?” Tanya seorang perempuan, dengan siluet yang sempurna, mengenakan long-coat­ merah tua.

“Kyla?” jantungku berdegup keras—Tuhan mengabulkan permintaanku secepat itu?

Perempuan itu mendekatiku, “Bukan, aku Chelsea.”

Ah, iya, kini aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Wajah yang bergaris halus di tepi rahangnya, dengan hidung yang mancung, dan bibir yang merah. Wajah sempurna itu, nyaris sama seperti yang dimilikinya. “Kenapa kau ada di sini?”

Chelsea mengangkat bahunya, “Entahlah, aku tadi lewat di depan pemakaman, dan tanpa sengaja melihatmu di sini. Jadi yeah—aku ke sini.” Jawabnya dengan pandangan mengawang-ngawang, sepertinya ia memikirkan sesuatu. Sepersekian detik, aku teringat dengan pandangan itu. Pandangan yang selalu ia pamerkan setiap kali merasa bingung. “Thom, kau sepertinya benar-benar belum bisa melupakannya ya?”

Aku mengangguk pelan, aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari wajahnya. “Maaf, Chelsea. Maaf.”

Chelsea terlihat agak gusar saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku tahu ia sudah bosan dengan kata maafku. “Aku bisa mengerti.” Gadis itu terlihat meredam kesedihan di wajahnya. Hidungnya memerah. “Tidak apa-apa.  Semuanya butuh waktu.”

Aku memeluk gadis itu dengan lembut dan erat. Ia menyambutnya dengan senyuman tersungging di wajahnya. Lalu pelan-pelan aku berbisik di telinganya, “Bolehkah aku memanggilmu dengan…” aku melepaskan pelukanku, dan menggenggam tangannya. “..namanya?”

Wajah indah itu menghentikan senyumannya. Ia menciumku dengan lembut, lalu tanpa mengatakan apapun, ia berjalan meninggalkanku—keluar dari pekarangan makam.

Seketika aku tersadar—astaga, apa yang telah kukatakan?

Aku telah menghancurkan semuanya.

Maafkan aku, Chelsea, aku masih tidak bisa menghilangkan wajahnya dari ingatanku, padahal kau begitu mencintaiku.

***

Please note: Maaf kalau ceritanya tidak jelas. Pikiran lagi berantakan.

Wanita Terhebat

“Mama pulang tengah malam lagi kayanya, mesti ke jakarta lagi soalnya. Baik-baik ya Nak.”

Tulisan yang khas itu tertera di atas tudung saji yang menutupi hidangan sarapan pagi di meja makan. Setelah selesai membaca tulisan di kertas A4 itu, Parisya Ardiwilaga mengambilnya dari sana dan melipatnya menjadi kapal terbang kertas dan melemparkannya ke arah jendela. Ia menghela napas panjang. Menu lauk sarapannya kali ini adalah semur daging dan capcay, porsinya sedikit, karena memang hanya untuk makan pagi Risya saja.

Lagi-lagi, batinnya. Mama selalu berangkat sebelum ia bangun dan pulang setelah ia tertidur lelap. Rasanya terakhir kali ia bertemu dengan mamanya adalah seminggu yang lalu, lebih malah. Saat Risya beranjak untuk duduk di kursi dan sarapan, seperti biasa Bi Ning menghampiri mejanya sambil menyediakan segelas susu cokelat kesukaannya sebagai pelengkan sarapan paginya. Kebiasaan ini sudah sejak Risya SD, sampai sekarang, kelas 2 SMA.

“Makasih, Bi.” Risya tersenyum saat Bi Ning menyediakan susu itu dengan sopan.

Sekarang sudah pukul enam kurang lima belas menit, ia punya waktu 15 menit untuk sarapan kemudian berangkat ke sekolah. Hari ini sama seperti kemarin dan kemarinnya lagi, Mama ingkar janji untuk bersarapan bersama dan mengantarnya ke sekolah.

Saat ia akan menyantap suapan pertamanya, tiba-tiba telepon genggam di sakunya berdering. Ia buru-buru menerima panggilan itu.

“Halo? Ayah?”

“Halo, Sya. Mama kamu udah berangkat lagi?”

As always, Yah..” Risya lalu melahap suapan pertamanya. Terdengar suara tawa kecil dari seberang telepon.

“Mama kan memang sibuk, Sya. Kamu maklum ya.”

“Ah, Mama itu pembohong, Yah. Bilangnya hari ini gak akan ke Jakarta dan mau nganter Risya sekolah. Eh tahunya malah ke Jakarta, dan katanya pulang tengah malem. Mama ini lebih sayang sama kerjaannya daripada sama Risya, Yah. Risya kesel sama Mama!” Risya mengunyah makanannya sambil manyun, bicara pula.

“Hush! Jangan bilang begitu. Mama kamu itu sayang sama kamu tahu.” Mendengarnya, diam-diam Risya mencibir. Semenjak mamanya dipromosikan menjadi Project Manager di perusahaan EPC tempatnya bekerja semenjak 3 tahun lalu, Mama rasanya jadi sangat jarang di rumah, bahkan weekend pun tak jarang ke luar kota hanya untuk mengawasi proyek. “Oiya, akhir pekan ini Ayah pulang ke Bandung. Dan apa kamu udah tahu, malah pas weekend itu Mama kamu yang ke Kalimantan.” Ayahnya tertawa. Mendengar itu rasanya Risya semakin kesal, saat ayahnya pulang dari Kalimantan ke Bandung, mama-nya malah pergi dari Bandung ke Kalimantan!

“Apaan sih, Yah, itu kan gak lucu.”

“Aduh, anak Ayah manyun nih pasti. Ya sudah, sampai ketemu Jumat malam ya.”

Lalu telepon ditutup. Setidaknya, weekend ini ia tidak sendirian bareng Bi Ning lagi—ada ayahnya yang akan menemaninya. Risya lalu menghabiskan sarapannya, kemudian bergegas berangkat ke sekolahnya, diantar oleh Pak Dido, dengan mobil CRV abu-abu metalik kesayangan mamanya.

***

“Nanti lo mau ngambil jurusan apa pas kuliah, Sya?” tanya Setra, teman sebangkunya, si laki-laki berperawakan jangkung berwajah oriental padahal 100% berdarah Sunda. Sekarang pukul tujuh kerang lima belas menit, lewat lima belas menit dari jam masuk seharusnya, namun gurunya belum muncul di kelas.

“Ya ampun, Tra. Masih nyaris dua tahun lagi juga. pikirinnya nanti aja kali.” Risya yang masih bad-mood karena mamanya itu, menjawab asal-asalan.

“Hey, gak kerasa tahu. Ntar tahu-tahu SNMPTN di depan mata, dan lo gak tahu mau milih jurusan apa-apa. Masa depan itu dipikir dari sekarang woooi.” Setra menoyor kepala Risya lembut, sambil tertawa playful.

“Emang lo pengen masuk jurusan apa?”

“Sipil lah!” Setra menjawab dengan semangat. Risya sudah menyangka sih, since Setra doyan banget sama bab Mekanika setiap pelajaran Fisika. Ia akhirnya Cuma ber-ooh panjang. “Lo gak pengen masuk Teknik Sipil juga kaya bokap-nyokap lo, Sya?”

Risya tertegun, ia kaget, lupa kalau kedua orang tuanya merupakan lulusan dari jurusan yang sama. “Ng-nggak kayanya.” Ia sebenarnya waktu kecil ingin mengikuti jejak orang tuanya, terutama mamanya, yang (dulu) menurutnya keren sekali, ahli konstruksi jembatan—padahal beliau seorang wanita. Tapi sekarang ia ogah masuk jurusan itu, karena ternyata kalau nanti ia end up di bidang yang sama, berarti family time-nya kelak akan sangat KURANG. “Eh, gak tahu. Kayanya gue emang belum kepikiran, deh, Tra.”

“Padahal kalo lo ntar masuk Sipil ya, Sya, lo bisa banyak dapet ilmu warisan dari bokap nyokap lo. Atau mungkin jadi Mother of Bridge Engineering kaya Raras Ardiwilaga, nyokap lo.” Setra tersenyum ke arah gadis berambut ikal sebahu itu.

Julukan dari media itu, Risya bergidik, lebay. Dan kayanya memang mamanya itu lebih pantas jadi mamanya jembatan, daripada jadi mamanya sendiri. Ia kesal sekaligus sedih mendengarnya. “Udahlah, Tra. Jangan bawa-bawa nyokap gue lagi. gue lagi kesel!” Risya lalu memalingkan mukanya ke arah jendela, dan membuat Setra bengong melihatnya.

Risya memang sudah beberapa kali curhat tentang Risya yang kangen sekali pada mamanya yang akhir-akhir ini sibuk bekerja. Tapi ia tidak menyangka kalau Risya sudah sampai ke tingkat ke-BT-an ini.

***

“Mama mana Yah?” Risya baru bangun saat itu, ia mengucek-ngucek matanya sambil menguap. Hari ini Sabtu pagi, dan ayahnya sudah dengan santai membaca koran di teras belakang rumahnya ditemani secangkir teh manis panas.

“Udah berangkat, Sya. Dari jam 4 pagi tadi. Kamu masih tidur tadi.” Ayahnya tersenyum.

“Kenapa Risya gak dibangunin kalau gitu?! Risya kan pengen ketemu Mama!” kantuk Risya hilang seketika. Kini kantuknya berganti menjadi emosi yang meletup-letup.

“Oiits, kamu jangan jerit-jerit gitu ah. Ini masih pagi. Mama bilang kamu tidurnya nyenyak banget, kasian kalau dibangunin.”

“Ah! Mama emang gak mau aja ketemu sama Risya!” Risya mendengus dan duduk di lantai di samping ayahnya. Ia nyaris menangis.

“Kamu jangan ngomong seenaknya gitu, Sya! Mending sekarang kita sarapan bareng yuk. Mama udah masakin ayam goreng kesukaan kamu pagi tadi buat kita sarapan.” Ayahnya menaruh koran di meja sampingnya, dan mengangkat anak perempuannya untuk beranjak ke ruang makan.

“Masak? Tumben Mama masakin sarapan!” Risya merengut, masih dengan sisa-sisa manyunnya.

Ayah menghentikan langkahnya. “Tumben? Kamu bilang tumben?” Risya mengangguk. “Terus yang kemarin-kemarin yang masak sarapan buat kamu setiap pagi itu siapa kira-kira?”

“Bi Ning.” Risya menjawab tanpa pikir panjang.

Ayah menatap Risya dalam-dalam. “Jadi inilah kenapa kamu pikir mama kamu gak sayang sama kamu?” Risya mengernyitkan keningnya. “Kamu salah, Sya. Setiap pagi kamu sarapan, itu semua Mama yang masak. Bukan Bi Ning.”

Risya menganga mendengarnya. “B-Bohong..”

“Bohong bagaimana? Kamu tahu, Mama kamu bakal sangat sedih kalau dia tahu kamu kesal sama dia. Mama mungkin selalu pulang larut malam, bahkan sampai gak sempat ketemu kamu. Tapi ia rela tidur cuma dua jam setiap harinya demi bangun pagi-pagi buta buat menyiapkan sarapan buat kamu, sebelum berangkat ke kantor atau keluar kota. Karena Mama selalu ingin memastikan kamu sarapan yang benar. Ayah pernah bilang, biar Bi Ning saja yang menyiapkan sarapan, tapi Mama selalu menolak. Dan Mama pernah bilang ke Ayah kalau itu hal tersepele yang bisa ia lakukan untuk menunjukkan perhatian dan rasa sayangnya sama kamu, karena ia sadar pekerjaannya sedang benar-benar menyita waktunya. Itu semua demi kamu, Sya. Kalau kamu gak percaya, kamu tanya Bi Ning sana.” Ayahnya menyilangkan tangannya di depan dada. Masih menatap anaknya dengan tatapan yang serius.

Tiba-tiba Risya merasa sangat jahat. Ternyata ia berprasangka buruk pada mamanya. Selama ini ia menyangka kalau mamanya hanya menyayangi pekerjaannya saja, tapi ternyata beliau rela berkorban untuknya. Mama bahkan tidak menghiraukan kesehatan dirinya sendiri.

“Mama kamu adalah wanita terhebat yang pernah Ayah kenal, Sya. Ia selalu menjadi yang terbaik, di pekerjaannya, apalagi di rumah, sebagai seorang ibu. Mungkin kamu gak menyadarinya, tapi cobalah untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang lain, Sayang.” Ayah mengacak-acak rambut Risya yang memang masih berantakan karena baru bangun.

Risya merasa diguyur air dingin di pagi hari. Ia sangat menyesali prasangkanya kemarin-kemarin. Ia memeluk ayahnya dengan erat. “Risya udah jahat sama Mama, Yah! Risya Menyesal!” ia nyaris menangis di pelukan ayahnya, kalau tidak sadar bahwa kini ia sudah berusia 16 tahun. “Risya sayang Mama, Yah. Risya kangen sama Mama.”

“Ya, Ayah juga kangen. Besok malam Mama baru pulang.” Ayahnya membelai dengan lembut rambut anaknya itu. “Satu hal yang lucu dari Mama, dia sangat menyukai jembatan. Mungkin kalau waktu kuliah dulu Ayah gak dapat A di mata kuliah Rekayasa Jembatan, Ayah gak akan bisa mendapatkan cinta Mama, Sya.”

Risya melepas pelukannya dan menengadahkan kepalanya kearah ayahnya. “Ya ampun, Mama benar-benar Mother of Bridge Engineering ya!” masih takjub dengan mamanya yang tergolong ‘ajaib’. Ternyata dibalik sisi wanitanya, mamanya tetap seorang engineer sejati.

***

Hari Senin akhirnya tiba. Saat itu masih sekitar pukul tiga pagi. Masih sangat pagi untuk bangun dan bersiap ke sekolah bagi Risya, namun kali ini ia sudah terjaga di tempat tidurnya. Ia lalu mencuci mukanya dan langsung bergegas ke dapur. Ia punya suatu rencana kali ini.

Sampai di dapur, ia segera mencari-cari bumbu-bumbu masakan untuk membuat nasi goreng. Ya, sepagi ini.

“Lho.. Risya? Kamu sedang apa, Nak?” suara lembut yang sudah lama tidak ia dengar langsung selain lewat telepon itu terdengar keheranan.

Risya menoleh, bukannya menjawab, ia malah tersenyum lebar. “Mama sudah bangun? Mending Mama tidur lagi deh, tadi malem kan baru sampai rumah jam setengah satu.”

Mamanya terlihat agak kebingungan. “I-iya, tapi Mama kan mesti bikin sarapan buat kamu—..”

Risya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak boleh, Ma. Pokoknya hari ini gantian Risya yang bikin sarapan buat Mama!” ia lalu beranjak dan mendoro mamanya untuk kembali ke kamar.

Mamanya semakin bingung, kali ini beliau khawatir. “Kenapa? Masakan Mama gak enak?”

Risya tertawa. “Mama nih lucu deh! Masakan mama tuh paling enak sedunia!” Mamanya menyipitkan matanya. Risya kemudian memeluk mamanya secara spontan. “Pokoknya sekarang biarin Risya yang bikin sarapan buat mama. At least ini sedikit cara buat nunjukin kalau Risya sayang juga sama Mama. Maaf kalau selam ini Risya suka berprasangka buruk dan cuek sama Mama ya.”

Sang Mama tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, sehingga anak semata wayangnya itu tiba-tiba melakukan hal itu. Tapi ia bahagia, dipeluknya Risya dengan erat. Sudah lama sekali semenjak terakhir kali ia memeluk anaknya.

Akhirnya, Risya tersenyum, ia bisa memeluk mamanya lagi. Dalam hatinya, terbersit, kalau besok Setra bertanya ia ingin kuliah di jurusan apa, ia sudah tahu akan menjawab apa, karena, ia inginmenjadi wanita hebat seperti mamanya!

****

 This story is dedicated to my mom, for my 100th post here. :)

mom

Akhir yang (tidak) Sempurna

Tiba-tiba suasana jadi tegang, padahal baru 30 menit yang lalu kami berhasil merampok bank bersama. Dengan ceria, dengan canda tawa atas keberhasilan kami. Ya, kami adalah tiga partner in crime yang baru saja melakukan sesuatu bersama. Dan crime di sini dapat diartikan secara harfiah. Masalahnya, tiba-tiba saja James yang berada di antara aku dan Liam, kini mengarahkan pistolnya ke kepala Liam sambil tersenyum bengis.

“Apa-apaan kau? Sudah sinting ya?!” Liam terlihat begitu emosi saat menyadari pistol itu sudah menyentuh pelipis kirinya. ”KITA SATU TIM!” James malah tertawa histeris seperti orang gila.

“James, kau—tidak serius kan? Ayolah, kau pasti sedang bermain-main kan?” aku berusaha menenangkan suasana. James pasti bercanda. Pasti. Tidak ada dalam rencana kami bahwa akan ada acara menempelkan-pistol-di-kepala-teman. James mendelik ke arahku. Tatapannya begitu jahat dan culas.

“Tidak, aku tidak sedang bercanda, apalagi bermain-main, kawan.” Ia akhirnya buka mulut. “Akhirnya kita sampai di titik ini, ya. Aku sangat berterima kasih.” James menunjukkan sekantung besar kain yang isinya tentu saja uang—uang yang banyak, hasil rampokan kami.

Sejak tadi Liam tidak bergeming, ia terlihat sangat tegang karena ia menyadari satu kesalahan saja akan berakibat fatal: James bisa kapan saja menarik pelatuk pistol itu. “Jangan bilang kalau kau…”

“Ya! Kau benar, uang ini akan menjadi milikku seorang, dan kalian berdua..” James tertawa lebih keras lagi, “..terima kasih karena telah memuluskan semua jalanku. Kau, Ron, terima kasih atas rencana detil yang begitu mulus. Sedangkan kau, Liam,” James kini tersenyum gila ke arah kawanku yang malang itu, “Terima kasih atas penyamaran sebagai sandera yang luar biasa, tapi sayangnya kau memang menjadi sanderaku sekarang.”

Sial, sepertinya James memang benar-benar serius ingin menghabisi Liam—dan aku selanjutnya! Cih! Andai saja saat ini aku memegang senjata, pasti dia sudah kusingkirkan duluan. Liam tiba-tiba bergerak dengan maksud menyerang James, tapi sia-sia, ia malah benar-benar tertembak oleh pengkhianat yang satu itu. Kini ia tergeletak tak berdaya di tanah. Aku menganga. Lidahku kelu, dan lututku terasa kaku.

Dari kejauhan, aku bisa mendengar sayup-sayup suara sirene mobil polisi mulai mendekat. James menatapku dengan tatapan kosong seperti seorang psikopat. “Sekarang giliranmu.” Ujarnya dengan tenang. Ia menarik sekali lagi pelatuk pistolnya dan bersiap menembakku. “Sampai jumpa di neraka, kawan.

Ayo, Ronald! Berpikir! Masa kau mau nyawamu hilang di tangan bajingan ini?

Aku melihat ke sekilingku sambil berjalan mundur, karena James semakin mendekat ke arahku dengan tampang jahatnya. Astaga, aku harus menemukan sesuatu untuk menghentikannya, atau setidaknya, mengulur waktu supaya aku bisa kabur!

Tiba-tiba aku teringat kalau ada banyak uang receh di saku jaketku. Receh yang terbuat dari logam. Aku segera merogohnya—kalau aku meninjunya sambil menggenggam recehan itu, maka pukulanku akan semakin kuat—seperti hukum impuls-momentum—dan mungkin bisa membuatnya pusing sebentar.

Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari jauh. Perhatian James sedikit teralihkan dan aku hanya punya waktu sepersepuluh detik untuk menghajarnya.. berhasil!

James terhuyung dan aku berlari secepat mungkin dari tempatku tadi. Aku tidak tahu akan lari kemana, yang penting menghilang dari hadapan James dulu. Aku tidak peduli kalau nantiaku tertangkap polisi, toh aku tidak membawa barang bukti apapun—pokoknya kabur dari James dulu.

Kini aku berjarak sekitar 50 meter dari James yang ternyata sudah mulai berlari mengejarku. Dengan napas tersengal-sengal, aku menambah kecepatanku, karena James ternyata larinya sangat cepat dan aku nyaris terkejar. Aku berlari lagi.

Ayo, kaki, berlarilah semakin kencang!

Aku berlari terus, dengan diiringi rasa panik mengetahui James sudah ada di belakangku. Ia menembak dengan membabi buta, namun sayangnya meleset.

Sedikit lagi, Ron! Ayo berlari! Jangan sampai pengkhianat ini menghabisimu!

Ayo jangan sampai—ah, sial. Aku terjatuh.

Habislah nyawaku kalau begini ceritanya…

 runway

CUT!” seseorang berteriak kesal dari jauh. “Astaga, Edward! Semua berjalan sempurna sekali. Kenapa, sih, kamu harus terpeleset di scene akhir?” aku terbangun sambil menyeringai, bajuku kini kotor sekali terkena tanah. Ternyata sang sutradara sama sekali tidak bisa tersenyum. “Ayo kita ulangi lagi, dari bagian Ronald menghajar James dengan uang receh di tangannya!”

***

Biasanya

Biasanya, setiap bertemu dengannya, aku selalu mencium tangannya.

“Kok kamu datang-datang udah manyun aja?” Tanyanya padaku, saat aku datang ke kantornya—sebuah konsultan yang bergerak di bidang Teknik Sipil—membawakan makan siang. Hal ini tidak rutin kulakukan sih, sesekali saja, kalau aku tidak sedang ada kuliah siang. Namanya Irsan, dia adalah kekasihku semenjak dua tahun yang lalu.

“Ini bukan manyun, Bang. Sedih ini.” Aku merengut. Lalu menaruh kotak makan di samping layar laptopnya. Aku lalu tersenyum ke arah asistennya tepat di sampingnya, yang sedang sibuk klak-klik-klak-klik mouse demi mendapatkan rancangan gedung yang tahan gempa, dan semua atas komando dari Irsan.

“Masih sedih aja kamu. Udah donk, aku aja udah gak sedih lagi.” Ia tersenyum ke arahku, lalu berjalan mendekatiku. Ia menyenggolku dengan bahunya. “Kamu bawain aku makanan kan?” aku mengangguk pelan, kemudian menarik kotak makan yang barusan kutaruh. “Suapin donk,” ia menyeringai manja.

“Kerjaan Abang?” Tanyaku.

“Tenang, ada asisten. Iya gak, Ben?” ia melirik ke arah asistennya yang bernama Benny, seorang mahasiswa yang dulu adalah adik kelasnya semasa masih jadi mahasiswa. Benny mengacungkan jempolnya ke arah Irsan.

Biasanya, dia yang menyuapiku es krim cokelat mint kesukaanku, bukan sebaliknya.

Dengan hati yang masih sedih, aku akhirnya mulai menyuapi Irsan sampai makan siangnya habis. Aku tahu kalau Irsan bukan tipikal orang manja, dulu, dia paling anti disuapi, bahkan oleh ibunya sekalipun. Tapi sekarang ia tampak seperti seorang yang sangat manja dan ketergantungan. Aku tahu hal ini menyiksanya, tapi aku sama sekali tidak berkeberatan.

Sambil makan (dengan kusuapi tentu saja) ia bercerita tentang proyek yang sedang dibuatnya. Matanya berbinar-binar. Ia benar-benar mengerjakan proyek ini dengan sepenuh hatinya. Itulah Irsan, sangat mencintai pekerjaannya. Aku tetap menyimaknya dengan sepenuh hati, sesekali member tanggapan dan mengangguk-angguk. Tanpa sadar, aku menitikkan air mataku.

Biasanya, dia adalah seorang orator yang menggunakan body language dalam setiap cerita: tangan, mata, dan jarinya.

“Kamu kok nangis lagi…?” Irsan menghentikan makannya. Ia menatap mataku dengan tajam. Aku buru-buru menyeka air mataku.

“Nggak! Nggak! Tadi aku kelilipan!” sanggahku, berbohong. Aku sungguh tidak bisa menahan tangis kesilku saat mengingat gaya berceritanya yang dulu, sangat berbeda dengan sekarang. Ia terlihat begitu kaku—begitu terbelenggu, meskipun tatapan mata dan ekspresi wajahnya sama dengan dulu. Ini semua karena salahku!

“Amira, tolong..” Ia mengecup keningku, pelan. “Jangan menangis lagi ya? Aku sudah bisa menerima semua ini. Ini bukan masalah besar bagiku. Hanya masalah kebiasaan. Jangan bikin aku terlihat lemah, Mir. Dan jangan merasa bersalah.” Suaranya menenangkanku. Masih seperti dulu.

Biasanya, ia selalu memelukku erat setiap kali aku terisak, atau bahkan saat aku tenggelam dalam emosi.

“Tapi ini memang salah aku, Bang!” aku bersikeras. Usahanya untuk menenangkanku malah semakin membuatku merasa bersalah. Aku meletakkan kotak bekal yang masih belum habis itu di meja, sebelum isinya terkena tumpahan air mataku. Bisa-bisa asin rasanya nanti—bodoh memang, di saat seperti ini aku masih memikirkan hal itu.

Biasanya, jari-jari tangannya akan menyeka air mata dari wajahku, dan menarik bibirku untuk tersenyum kembali.

“Kalau saat itu aku tidak melamun saat menyeberang, Abang tidak perlu menyelamatkan aku!” Aku menangis semakin menjadi-jadi. Aku bisa melihat Benny mencuri pandang ke arah kami berdua. Ia tampak bersimpati melihat keadaan kami saat ini, Irsan lalu member kode supaya Benny keluar ruangan sebentar.

“Mir, kamu gak melamun saat itu, supirnya aja yang meleng. Ini bukan salah kamu, Mir. Sudah, sud—…”

“Tapi kalau aku nggak ngotot untuk nyebrang saat itu—Abang gak perlu kehilangan kedua tangan Abang karena kecelakaan itu!” aku akhirnya menangis sejadi-jadinya. Irsan hanya bisa menempelkan wajahnya di keningku. Mengecup hidungku berulang kali. Sambil membisikkan padaku kalau semuanya bukan masalah, semuanya ia lakukan demi aku. Tapi maaf, aku masih tidak bisa memaafkan diriku sendiri atas semua kejadian ini. Kedua tangan Irsan kini diamputasi, dan semua itu gara-gara kebodohanku.

Biasanya, kedua tangannya akan membelai lembut helaian rambutku, saat ia berkata semua akan baik-baik saja.

Biasanya.

Tuhan, andai aku bisa sesabar dirinya dalam menerima semua ini.

hands

…Itu Serius, By The Way.

“Jadi masalah lo sebenernya apa, sih, Ngga?” Rania berkacak pinggang di hadapan teman satu jurusannya, Teknik Sipil, yang tidak bisa disebut sahabat juga sih. mereka sudah terlalu lengket seperti lem tikus. Mungkin mereka sebaiknya disebut… kembar dempet. “Setahun yang lalu lo mering karena disenyumin sama tuh cewek. Satu semester yang lalu lo galau beliau gara-gara tahu kalau dia jadian sama cowok Tambang, balas dendam pas Final Liga Bola antar jurusan, ngejebol 5-0—which.. was good actually. lalu beberapa bulan kemudian lo sorak-sorak girang gara-gara mereka putus. terus lo bisa deket sama dia semenjak itu.”

Ringga mengangkat bahunya. “Gue gak tahu, Ran. tiba-tiba aja gue ngerasa bingung.”

“Gila. Memang cowok tuh semua tipikal ya! seneng ngejar, dan saat si cewek udah jatuh ke dalam jaring laba-laba si cowok itu, ni cowok ninggalin!” Rania duduk di samping Ringga sambil cemberut. “Lo pikirinlah, udah banyak usaha yang lo lakuin buat dapetin dia. kenapa sekarang lo tiba-tiba ilfil? ternyata lo sama aja brengseknya kaya cowok lain!”

Ringga mendongak. “Gue gak ilfil, Ran. Gila aja lo.” suasana malam di depan himpunan yang sepi kini memanas karena nada Rania yang meninggi sejak tadi. “Gue cuma bingung,” Ringga memelankan suaranya, lalu meminum kopi panas yang ada di sampingnya sejak tadi.

Rania mengernyitkan keningnya. “Bingung kenapa? Karena lo gak nyangka Lulu suka sama cowok kerempeng setipis keripik kaya lo?” oh, dan cewek itu namanya Lulu, by the way.

“Lo tuh ya… bukannya ngasih solusi, malah ngeledek.” Ringga mengacak-acak rambut Rania sambil bergestur berniat menumpahkan kopi ke atas kepala gadis itu. Rania tertawa sambil meronta minta tolong.

“Ya habisnya.. lo bingung kenapa?” Tanya Rania, sekali lagi.

“Coba lo sebut tiga alasan kenapa gue mesti menjadikan Lulu cewek gue.” Ringga bertanya sambil menoleh ke arah cewek yang kini merapatkan jaket himpunannya karena malam semakin dingin.

“Hmmm,” Rania berpikir, “Karena dia cantik, baik, dan lo udah suka sama dia sejak lama.” Gadis itu menengok ke arah laki-laki yang mengenakan kemeja flanel kotak-kotak biru itu. “Eh, itu kan menurut gue. Menurut lo?”

Ringga beranjak dari tempat duduknya sambil meminum kopinya. berjalan ke arah jalan di samping himpunan sambil menerawang ke langit malam yang kelam—tanpa bintang satu pun. maklum, baru saja beres hujan. “Dia cantik. itu bener.”

“Terus?”

“Dia juga ramah banget, gue suka dia.”

“Nah, kalau gitu, apa lagi yang bikin lo ragu, Ngga?” Rania mengikuti langkah Ringga pada akhirnya. Ringga terdiam sebentar. ia lalu menatap kopinya lekat-lekat. lalu melirik ke arah Rania, lalu menatap kopinya lagi. “Apa karena dia gak suka kopi?”

Tawa Ringga saat itu juga meledak. “Gila! bukan! bukan gara-gara itu!” Kemampuan Rania untuk menafsirkan sesuatu memang sangat harus dimaklumi, dan Ringga sudah tahu betul akan hal itu.

“Ya gak usah segitunya juga kali ketawanya.” Rania kembali cemberut. “Terus apa yang ngeganjel lo buat nembak dia? Besok lo ulang tahun, dia bisa jadi hadiah terbaik buat ulang tahun lo, Ngga.”

Ringga terhenyak. astaga, ia ternyata lupa kalau besok ia ulang tahun. “Alasannya…” ia menatap Rania sekali lagi. “Konyol sih. tapi janji ya, lo gak akan ngebunuh gue setelah tahu alesan sebenarnya?”

“Iya janji.” Rania mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya di samping kupingnya yang memerah karena dinginnya udara malam itu.

“Itu karena…” Ringga menutup matanya sebentar. “…karena dia bukan lo, Ran.”

Rania menganga mendengarnya. ia tertawa pelan, dan lama-lama… lepas. “Lo LUCU banget sih, Ngga. udah donk, jangan becanda ah, flow-nya udah naik juga…”

Ringga mengatupkan kedua bibirnya. “Eh, itu gue bicara serius, by the way.”

Rania menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Astaga, Tuhan, ia merasa kini pipinya sudah sangat merona merah!

the beginning

« 1 2 3 4 5 »