frhan Asked
Questionbikin lanjutan kiranyaaaa dong... we want more we want more hahaha Answer

hahaha, ada yang masih inget cerita itu ternyata. mau dilanjutin sih han, tapi lagi kedistrak sama cerita lain. jadi tunggu tanggal mainnya ya. :P

makasih loh apresiasinya. :)

Sambil berdiri, aku menatap gadis yang kukenal semenjak lima tahun silam itu lekat-lekat. Ia tersenyum ke arahku dengan mata yang menyiratkan banyak makna. Aku lalu menghirup napas dalam-dalam dan menggenggam kedua tangan gadis itu. Kurasakantelapak tangannya begitu hangat—berbeda dengan tanganku ya terasa basah karena keringat dingin.

“Ada.. sesuatu yang mau gue omongin sama lo sejak dulu,” ucapku pada akhirnya, setelah sejak tadi mengumpulkan semua keberanian dan menghantam bibir keluku.

“Apa?” sahutnya standar. Tersenyum semakin penuh arti.

“Gue.. sebenernya suka sama lo sejak dulu, Rin.” Aku menelan ludah. “Lo mau kan jadi cewek gue?”

Gadis di depanku terlihat sedikit kaget, namun akhirnya mengangguk pelan. “iya, gue mau.” Jawabnya mantap. Rasa lega di hatiku membuncah saat itu. Rasanya seperti bisul yang pecah setelah bertahun-tahun.

“Akhirnya!” aku berseru girang. Gadis di hadapanku itu tertawa melihat kegembiraanku. Ia lalu melepaskan genggaman tanganku dengan santai.

“Nah, kayak gitu ngomongnya! Susah amat sih, sampe mesti pakai gladi resik segala. Cepetan ke sana gih, Rini udah nungguin lo dari tadi tuh!” Mila tersenyum ke arahku sekali lagi. Aku mengangguk dan segera berlari ke tempat Rini dengan hati yang berdebar-debar.

holding hand

“Halo?” Rangga menelepon lagi dari seberang sana.

“Halo,” bisikku pelan. Berusaha sepelan mungkin supaya tidak ada yang mendengarnya.

“Kamu lagi dimana, Rin?” tanyanya. “kok bisik-bisik?”

“Aku..” aku kaget mendengarnya. Kentara sekali ya kalau aku bisik-bisik?

“Kamu lagi dimana , sih? Kok ribut banget di belakang? Katanya tadi kamu mau ke kosan temen buat ngerjain tugas?” Rangga sepertinya bingung.

“Eh, iya, ini aku di kantin soalnya, rame banget..” jawabku santai, masih dengan bisikan.

“Kalau gitu, bisa ketemuan gak?”

“Hah? Ketemuan? Engg…” aku memainkan rambutku sambil berpikir. Kenapa dia tiba-tiba ngajak ketemuan?

“Sekitar sepuluh menit lagi aku ke tempat kamu ya!”

“Eh, iya boleh sih.” Pikiranku masih kacau. Berarti dia bakalan pergi dari tempatnya sekarang dan..

“Kenapa? Gak boleh?” tanyanya ketus. Aku kaget mendengarnya.

“Boleh kok, siapa yang bilang gak boleh?” aku mengernyitkan keningku.

“Nah, itu.. you paused! Where are you exactly?” nada suaranya meninggi. Aku memijit-mijit keningku, suaranya yang seperti ini selalu membuatku sedih dan takut sebenarnya.

“Di kantin kok, aku gak bohong.” Sumpah, Ngga. Aku di kantin.

“Ah, gue gak percaya.” Kata-kata aku-kamu yang biasanya ia gunakan sontak berubah menjadi gue-lo. Ah, ini pasti artinya dia sudah marah besar. Gawat.

“Ya udah kamu ke sini aja kalau gak percaya.” Aku menghela napas panjang.

“Oke, aku ke sana sekarang. Sebaiknya kamu emang gak bohong sama aku.” Nadanya terdengar mengacncam, bercampur khawatir. Takut. Takut kalau ia dibohongi.

Baru saja aku mau menyahut lagi, telepon ditutup. Aku bisa mendengar nada kecewa dan tidak percaya yang besar di sana, tepat sebelum ia memutuskan sambungan teleponnya.

Astaga, Rangga, aku beneran ada di sini.

Tiba-tiba derai tawa Mindri mengagetkanku. Ia sedang makan bakso di hadapanku sejak tadi, dan baru kali ini tawa kerasnya pecah.

“Apa sih lo? Bikin gue kaget aja!” seruku sambil mengelus-elus dada.

“Ya abis lo, sih, Cha. Parah banget.” Ia menahan tawanya setengah mati. “Gue tahu lo ngeceng rangga setengah mati, tapi gak usah sok-sokan kek lo yang ditelepon sama dia gitu deh. Jelas-jelas dia nelepon ceweknya!” kemudian ia terkikik lagi, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Icha.. Icha..”

“Astaga, suara gue keras banget ya, ampe kedengeran ke lo? Jangan-jangan dia denger lagi barusan. Haduuuh!”

“Haha, nggak kok. Suara lo gak segitu kerasnya, dia gak bakalan denger.” Mindri masih berusaha menahan sisa-sisa tawa sambil meneruskan memakan baksonya. Aku lalu menoleh pelan kea rah Rangga pergi tadi, dan mataku hanya melihat siluet punggungnya yang bergerak menjauhi tempatku—dan tempatnya tadi saat menelepon. Pacarmu itu sudah tidak sayang kamu lagi, Ngga. Harusnya kamu pilih aku.

phone call

Setelah makan siang, Kadita buru-buru menaruh tasnya di Palet. Masih dengan mata yang jelalatan mencari pulpen sapi di setiap sudut ruangan tersebut, ia misuh-misuh kembali ke basecamp gerbang. Bibirnya masih manyun. Pertanyaan di kepalanya kini mengganda menjadi dua. Tentang siapa yang menaruh potret itu di lacinya, dan kemana pulpen kesayangan dari almarhumah ibunya itu.

“Nah ini dia Koordinator kita! Dit, kita izin makan siang dulu yak.” Celetuk Benji. Ternyata ia sudah mengumpulkan aliansi dengan beberapa anak cowok. Alamat bakalan makan besar kalau mereka sudah berkumpul.

“Gih,” ungkap Kadita singkat. Pikirannya masih runyam.

“Lo gak ikut makan, Dit?” Tanya Fauzi.

“Udah deh, Zi, gak usah basa-basi. Cowok-cowok semua gitu, masa iya gue ikut?!” KAdita tertawa juga akhirnya. Fauzi menyeringai lebar, ternyata koordinatornya ini memang selalu mengerti apa yang diinginkan bawahannya.

“Ya udah, kita cabut dulu ya, Dit.” Mereka melambaikan tangannya ke arah Kadita, lalu menghilang di balik pagar gerbang belakang sekolah. Sekejap, base camp berubah menjadi sepi. Mega juga sedang makan siang barusan, cewek yangs atu itu kalau makan siang biasanya lama, soalnya plus-ngobrol, plus-jajan, dan banyak plus-plus lainnya. Kini hanya ada ia di area base camp Gate.

Diambilnya kuas dan gelas plastik bekas air mineral dan mulai mencampur warna yang akan diulaskannya ke sebongkah triplek yang sudah diberi alur. Sambil mendengarkan MP3 yang mengalun lewat earplug dari iPod-nya di telinga, ia pun mulai mengecat.

Beberapa menit kemudian, ia baru sadar kalau di sekitar basecamp tinggal dia sendiri. Sisanya teman-teman yang lain juga sepertinya ikut pergi makan siang. Ada sih, yang masih dekor, tapi beda divisi: panggung dan lorong. Ia tidak ambil pusing dan kembali mengecat. Tapi saat ia kembali menoleh ke arah area kerjanya, sebuah pulpen terjulur ke depan matanya.

PULPEN SAPI!

“Ini kan pulpen sapi gue?!” Kadita menjerit gembira dengan keras, ia lalu melihat siapa yang menyerahkan beda itu ke arahnya. “Maka—..” ia tertegun, sedikit menganga. Arus. “..sih.”

Arus tersenyum dengan matanya yang bersudut sipit. “Kemarin gue nemu itu di lantai deket Palet, gue pikir ini punya lo. Ternyata tebakan gue bener.”

“Iyalah, kan ada namanya,” Kadita menyipitkan matanya. Arus tertawa dengan napasnya. Gadis itu memasukkan pulpen kesayangannya itu ke saku kemejanya.

“Gue bantuin, ngecat aja, ya? Kayaknya bagian buat ‘kuli’-nya lagi habis nih.” Ia menunjuk ke arah tumpukan bilah bambu yang sudah menumpuk dan bersih. Kadita akhirnya mengangguk. Entah apa yang menyebabkan kali ini Kadita merasa sangat kaku dengan teman seangkatan barunya, yang notabene adalah sahabat kekasihnya. “Kenapa kita ngecatnya pakai cat tembok sih?” Pertanyaan Arus memecah jeda hening di antara mereka berdua secara tiba-tiba.

Kadita menoleh, melongo. Arus menatapnya, “Kenapa?”

Sontak Kadita kembali ke kesadarannya dan mengalihkan perhatiannya pada kuasnya lagi. “itu soalnya.. biar murah.” Kadita tersenyum. “Kalau cat tembok kan campurannya air, jadi lebih gampang juga. Kita tinggal beli cat putih segalon, dicampur sama cat biang, bias dapet banyak warna yang kita pengen, tanpa harus beli berkaleng-kaleng.”

“Jadi semua cat ini, kalian yang atur sendiri komposisi warnanya?”

Kadita mengangguk. “Kalau mau dapet warna hijau—ya biasa, kuning dicampur biru. Kalau cokelat, hitam, kuning, merah. Justru itu yang menarik.”

“Tapi kan cat tembok gampang pecah?” Arus menaruh kuasnya di sebuah kaleng penuh cat berwarna cokelat muda. Ia beranjak kea rah gadis yang tak jauh dari sisinya itu. Aroma parfum manis yang nyaris seperti wangi buah apel bercampur bunga menggelitik hidungnya.

“Iya, itu satu kekurangannya, tapi kalau pakau cat kayu, lama keringnya, dan kalau belepotan kena baju gak bisa hilang nodanya.” Kadita menjawab semua pertanyaan itu tanpa menatap sang penanya. Ia hanya bias menggigit bibirnya pelan. Entah kenapa ia masih merasa takut untuk menatap cowok ini.

“Kalau pecahan catnya jatuh ke kepala, bikin kepala jadi kelihatan kaya ketombean ya? Gede-gede lagi.” Arus menahan senyumnya. Kadita mendelik akhirnya ke arah Arus.

“Maksudnya?” Kadita kaget saat ia mendapati wajah Arus berada tepat di samping pipinya. Ia nyaris melompat ke belakang. Namun sesaat itu pula Arus menarik wajahnya menjauh. Lelaki itu tersenyum. Ia baru saja mengambil sesuatu dari rambut Kadita di dekat kupingnya.

“Nih, kayak gini.” Arus menunjukkan sekeping pecahan cat berwarna putih kepadanya. “Tadi ada di rambut lo, makanya gue bilang mirip ketombe.” Kadita merasa badannya lemas seketika. Ia pikir Arus tadi ngapain. Ia tersenyum runyam dan merapikan rambutnya dengan tangannya yang bebas dari kuas cat. “Tenang, udah gak ada pecahan cat lagi kok.”

“Makasih ya,” Kadita langsung berbalik dan menyembunyikan wajahnya yang sepertinya, ia yakin kalau kini memerah seperti kepiting rebus.

“Rambut lo wangi melon—pake Pantene ya?” Arus tiba-tiba menyeletuk sambil beranjak ke tempat sebelumnya.

“Kok lo freak sih, sampai tahu wangi shampoo orang?” Kadita menyahut. Sepersekian detik sebelumnya, ia merasa kikuk, namun sekarang, gara-gara celetukan shampoo itu, ia merasa konyol. Arus tertawa sambil mengambil kuasnya lagi, namun ia tidak menjawab apa-apa. Ia hanya menatap Kadita yang terlihat bingung sambil menahan tawanya.

KEdua mata Kadita sempat beberapa detik bertemu dengan mata Arus yan terlihat menatapnya dengan dalam dan menyiratkan sesuatu—dan itu membuatnya gugup. Ia segera berusaha mengalihkan pandangannya dari Arus, dan sudut matanya—beruntung—menangkap sosok Risang sedang berjalan ke arahnya.

“Risang!” gadis itu segera menjeritkan nama kekasihnya dengan riang sambil melambaikan tangannya yang memegang kuas. Ia bebas dari tatapan Arus yang membuatnya takut. Arus menoleh cepat ke titik yang sama dengan apa yang dilihat Kadita, dan memang ada Risang di sana.

Sang ketua OSIS itu memang bermaksud menghampiri mereka berdua. Ia menepuk bahu Arus yang tersenyum ke arahnya. “Udah pada makan belum? Makan yuk!”

“Gue belum! Ayo!” Kadita segera melempar kuasnya ke alas Koran yang sepertinya memang diperuntukkan sebagai wadah kuas kotor. Ia menarik pergelangan tangan Risang menuju ke kantin. Risang membuat isyarat mengajak kepada sahabatnya yang ada di sana, namun ajakannya ditolak dengan gelengan pelan.

“Kalian aja, gue udah makan..” Risang mengangguk-angguk mengerti dan menyusul langkah KAdita supaya bias berjalan sejajar, sampai akhirnya mereka menghilang di balik belokan menuju ke kantin. “.. tadi pagi.” Arus melanjutkan kalimatnya yang ternyata belum selesai.

paint

"Welcome new followers! :)"
— I hope you guys enjoy my writings and I hope you comment on it too :)