http://www.kewmanagement.com/wp-content/uploads/2013/12/New-Years-Eve.jpg

Bandung, 31 Desember 2013, 23:46.

Seandainya aku tahu, aku tidak akan jadi ke Bandung malam itu.

"Halo, San, tadi kamu ketemu Fandi di sebelah mana?" Tanyaku pada Sandra, penuh perjuangan setengah berteriak di telepon—serasa menelepon di tempat dugem. Suasana Cihampelas Walk malam itu benar-benar hingar-bingar—pentas band bintang tamu begitu meriah sampai aku nyaris tidak bisa mendengar suaraku sendiri.

"Di deket Platinum, Ris. Deket lampu-lampu gitu. Sekarang lo dimana?" Setengah mati aku berusaha mendengar jawaban dari Sandra. Masih terdengar pelan sekali, padahal aku yakin kalau volume speaker telepon genggamku sudah maksimum.

"Oh, oke, ini aku lagi jalan ke arah sana. Thanks ya.”

Seandainya aku tahu, aku tidak akan punya niat memberi kejutan untuknya malam ini.

Aku berjalan susah payah dengan permisi sana sini, menembus kerumunan manusia di sini—astaga—aku curiga setengah penduduk Bandung merayakan tahun baru di sini. Celakanya, makin dekat dengan waktu count down, orang-orang makin gak mau geser dari posisi strategis yang sudah mereka amankan. Saat kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 23.58, aku makin buru-buru ke arah Platinum, sesuai arahan Sandra.

Aku ingin memberikan kejutan kepadanya, dengan tiba-tiba muncul di hadapannya. Menjadi kejutan manis pertama di tahun 2014 untuknya. Perjuanganku melewati kerumunan ini tidak sia-sia, sesosok siluet yang sangat familiar di mataku berdiri di samping hiasan lampu—Sandra was right. Senyum mengembang di bibirku, rencanaku berhasil.

Seandainya aku tahu.. kalau ternyata kejutan yang ada bukan untuknya, melainkan untukku.

Aku berjalan mendekat, namun tiba-tiba napasku tercekat. Aku tidak percaya apa yang kulihat. Saat orang-orang sudah mulai berhitung mundur serempak dari sepuluh, tenggorokanku malah tercekat.

Satu hal yang kusesalkan, ini bukan mimpi.

Jakarta, 30 Desember 2013, 22.20.

"Mas, waiting list-nya masih banyak?” Tanyaku saat tiba di depan meja resepsionis travel langgananku, yang biasa mengangkutku pulang kampung ke Bandung. Sekitar jam tujuh malam tadi aku sudah sempat kemari dan menuliskan namaku di daftar waiting list, tapi karena saat itu aku masih di urutan dua puluh delapan, ya mending aku makan dulu di mall sekitar sana.

Resepsionis bernama Iwan itu melihat ke daftar waiting list, kemudian menatapku dengan wajah yang sedikit meringis, “Masih ada lima belas lagi, Mbak.”

"Lima belas?!" Astaga. "Oke Mas, makasih ya. Dapet gak kira-kira, Mas, buat keberangkatan terakhir hari ini?" tanyaku putus asa.

Mas Iwan tersenyum, “Aduh, gimana ya, Mbak. Sekarang udah jam 10.20, keberangkatan terakhir 11.45.. kayaknya kemungkinan dapet seat-nya kecil, Mbak. Kecuali kalau banyak yang nge-cancel.” Ujarnya. Aku berdecak kecewa.

Setelah berterima kasih kepadanya dan menghela napas panjang, aku kembali duduk di ruang tunggu. Huff.. beginilah kalau menuju hari libur—apalagi tahun baru, travel ke Bandung pasti langsung penuh. Padahal aku sudah berusaha pulang cepat supaya masih dapat seat untuk pulang ke Bandung malam ini, pasalnya, besok juga seharian sudah fully booked untuk semua tujuan travel di Bandung. Bus juga bukan pilihan bagiku, karena entah kenapa setiap kali naik bus aku selalu mabuk.

Saking pesimisnya, akhirnya aku mengeluarkan telepon genggamku dan menghubungi Fandi, pacarku, kalau sepertinya aku tidak jadi merayakan tahun baru bersama di Bandung gara-gara urusan transportasi.

"Sayang, aku ga jadi ke Bandung nih kayaknya, ga dapet travel. :’( ✓"

"Besok pagi juga ga dapet?"

"No hope. bahkan sampai tgl 1-nya juga udah penuh. 22.24 ✓"

"Perlu aku jemput ga?"

"Ga usah, sayang. makasih. Weekend aku tetep pulang kok. :) ✓"

"Yah… :("

"Terus kamu masih mau nyoba nunggu WL atau balik ke kosan?"

"Kayaknya aku mau pulang aja deh. ✓"

"Oke, hati-hati ya. Kabarin klo udah sampe kosan."

"Siap bos. :) ✓"

 Segera setelah itu aku bergegas keluar dari pool travel itu dan mencari tukang ojek yang biasanya ngetem tak jauh dari area parkiran travel. Baru beberapa langkah dari pintu keluar, telepon genggamku berdering. Nama Arka Anugerah terpampang di layarnya.

"Halo?"

"Lo dimana?" Tanyanya dari seberang telepon.

Kebiasaan banget nih, Arka. Gak ada ‘halo’, gak ada basa-basi. “Di depan travel. Kenapa?”

"Jadi ke Bandung?"

"Nggak. Gak dapet travel nih. Mau pulang aja."

"Travel tempat biasa kan? Gue jemput ya. Lima belas menit lagi gue sampe. Oiya, ada tukang nasi goreng kan di deket sana, beliin ya seporsi buat gue. Kalo lo laper, beli seporsi lagi, gue traktir. See you.”

"Loh, emangnya kamu mau—.."

Tuut.. tuut..

KEBIASAAN! Gak ada nanya, gak ada persetujuan, telepon ditutup. Isssh!

Arka ini teman sekelasku sejak hari pertama kuliah. Nomor induk mahasiswa kami yang berurutanlah penyebabnya. Saking dekatnya, sampai sekarang kami tetap sering bertemu meskipun sama-sama sudah bekerja di perusahaan yang berbeda.

* *

Tepat lima belas menit kemudian, sebuah Suzuki Swift hitam berhenti tepat di hadapanku. Kaca jendelanya turun seketika, dan dari baliknya muncul wajah yang sangat kukenal semejak tujuh tahun yang lalu. Siapa lagi kalau bukan Arka.

"Nasi gorengnya?"

Nah, kan. Orang ini, yang ditanyain pertama malah nasi goreng. Aku langsung mengangkatnya supaya terlihat jelas kalau nasi gorengnya sudah dibungkus dengan cantik dalam keresek biru. “Boleh aku masuk?”

"Ya masuk, lah!" Jawabnya dengan senyum lebar sambil membukakan pintu dari dalam mobil. Aku masuk buru-buru supaya tidak terjadi antrian mobil yang panjang karena Arka berhenti di pinggir jalan—tidak terlalu menepi.

"Kok tumben jemput? Emang kamu mau kemana?"

"Lha emang gak boleh? Bukannya bilang makasih gitu gue jemput. Malah dibilang tumben." Arka mencibir, namun pandangannya tetap fokus ke depan sambil menyetir. Aku tertawa. Ya memang tumben, mengingat Arka ini kantornya di Jakarta Pusat, rumahnya di Jakarta Selatan, mau-maunya menjemputku yang berdomisili di Jakarta Utara.

"Iya makasih, Ka." Aku tersenyum.

"Lo masih pengen ke Bandung gak?" Arka tiba-tiba bertanya, tangan kirinya sibuk memelankan volume radio yang tadi memang cukup keras.

"Yah, masih sih. Tapi tadi aku udah bilang gak jadi ke Bandung."

"Bilang ke siapa?"

"Ke Fandi, lah, siapa lagi?" Sahutku, aku mencuri pandang ke arah Arka. Ia hanya manggut manggut sambil mengangkat alisnya. Arka masih memakai kemeja polosnya dengan dasi yang longgar. Lengan bajunya digulung sampai ke siku. Rambutnya berantakan seadanya, khas seorang engineer yang tidak terlalu peduli penampilan kalau sedang tidak di kantor.

"Gue sebenernya niat tahun baruan di Bandung. Anak-anak kantor pada mau tahun baruan di PVJ katanya."

"Gaul abis." Komentarku sambil terkekeh, meledek. "Terus?"

"Hmm.." Ia berpikir sambil terus menyetir. Sejak aku masuk ke mobilnya, belum sekalipun ia melongok ke arahku. Kebiasaan, lagi—tidak bisa tengok kiri-kanan iseng kalau sedang menyetir. "Ke Bandung aja deh kayaknya. Lo udah bawa peralatan ‘perang’-nya kan?"

"He? Err… iya sih."

"Gak apa-apa gak kalau kita ke Bandung sekarang? Macet sih, kayaknya. Tapi kalau lo mau, gue tinggal masuk tol nih." Tanyanya, dan seketika itu dia menoleh ke arahku. Aku kaget. "Mau gak? Malah bengong."

Aku mengangguk segera. “Mau! Mau!” wajahku sumringah, karena sepertinya aku bisa memberikan kejutan pada Fandi. Aku akan muncul di hadapannya saat malam tahun baru nanti. Yes, That sounds like a plan.

Jakarta, 30 Desember 2013, 23.20.

Benar sekali, ternyata jam segini tol dalam kota masih saja macet. Banyak orang yang cuti besok demi bisa liburan sehari lebih lama, atau bisa jadi mau menghindari macet, tapi ternyata nyaris setengah penduduk Jakarta semua berpikiran sama, jadinya.. tetap  macet. Arka mengeluh lapar sejak setengah jam yang lalu, terpaksa aku menyuapinya nasi goreng yang kubeli tadi dengan sendok plastik.

Romantis?

Kalau yang disuapinya Fandi, sih, iya romantis. Kalau Arka? Boro-boro romantis, malah mengingatkanku pada zaman kuliah, saat tugas kelompok kami dikejar deadline dan satu bagian lagi hanya Arka yang bisa mengerjakannya, akhirnya aku didaulat anak-anak sekelompokku untuk menyuapinya selama ia mengerjakan tugas tersebut. Kekurangan Arka yang menurutku cowok banget ini adalah tidak bisa multi tasking—setiap mengerjakan sesuatu, pasti susah diberhentikan sebentar untuk melakukan hal lain—makan, misalnya. Apalagi kali ini, menyetir.

"Satu sendok lagi habis nih, mana sini mulutnya? Aaa…" Kata-kataku persis kata-kata ibuku waktu menyuapiku waktu aku masih duduk di taman kanak-kanak.

"Bentar kali, mulut gue masih penuh." Arka menyahut sambil mengunyah. Keasyikan nyetir membuat dia lupa mengunyah makanan di mulutnya, sepertinya.

"Issh! Cepet ini mau tumpah dari sendok nasinya!" Ujarku sambil menghalangi nasi yang nyaris tumpah dengan tangan kiriku. Arka misuh-misuh, tapi toh akhirnya mulutnya dibuka juga. “Am! Habis. Anak pintar.” Aku cekikikan.

"Gimana gak habis kalo emaknya galak begini.." Arka menggerutu dengan suara pelan, namun aku masih bisa mendengarnya. Aku mendesis sambil berlagak akan memukulnya. Laki-laki itu terkekeh ditengah kunyahannya. "Sa, kalo ngantuk, tidur aja. Nanti gue bangunin kalo udah sampe,"

"Sampe mana?" tanyaku, bodoh.

"Sampe rumah lo, masa iya sampe kosan gue. Emangnya lo mau nginep sama gue?" Lagi-lagi Arka tertawa renyah. "Meskipun gue ga keberatan sih," Aku memanyunkan bibirku sambil melotot ke arahnya. Saking seringnya Arka ke Bandung, kosannya semasa kuliah masih ia terus sewa meskipun kami sudah lulus sejak sekitar tiga tahun yang lalu.

Aku memang sudah merasa mulai ngantuk sih. Tapi ternyata selepas melewati Bekasi, jalanan tidak macet lagi, lancar malah. Jadi kuurungkan niatku. Gak enak, kan, sudah diantar, masa kutinggal tidur. “Nggak deh, aku gak mau tidur, biar kamu gak ngantuk nyetirnya.”

Arka tersenyum. Aku menyerahkan botol air mineral kepadanya, dan seketika itu juga ia menghabiskan setengah isinya. Aku mengecek telepon genggamku kemudian, tidak ada pesan dari Fandi. Hanya dari ibuku yang menanyakan aku dimana, setelah kubilang kalau aku di jalan menuju Bandung bersama Arka, beliau hanya berpesan supaya hati-hati dan semoga Arka tidak ngebut.

Hmm, mungkin Fandi tertidur. Akhir-akhir ini ia bilang kalau menjelang tahun baru ini kerjaannya malah semakin numpuk karena teman kantornya banyak yang ambil cuti, makanya ia jadi sering tidur cepat.

Tol Cipularang, 31 Desember 2013, 00.20.

"Isi bensin dulu ya," Arka memutar stirnya untuk memasukin rest area km 72. Aku yang sejak tadi melamun tiba-tiba kaget sendiri. Arka tertawa melihat ekspresiku. Tak lama kemudian kami berhenti di pom bensin, dan ia beranjak keluar dari mobil.

Untuk menghilangkan bosan, aku melihat-lihat isi mobil Arka. Sejak dulu, Arka selalu rapi. Jok belakang tidak pernah berserakan dengan buku atau apapun. Hanya sekotak tisu. Pandanganku tertarik ke arah iPhone milik Arka yang tergeletak di dekat rem tangan. Aku mengambilnya untuk melihat playlist-nya, siapa tahu ada lagu baru yang ia punya yang bisa ku-copy—karena selera musik kami lumayan mirip. Aku menggeser scroll lock layarnya, dan ternyata ada beberapa notifikasi WhatsApp yang masuk.

Lingga Sipil06.

Oh, teman seangkatan kami. Aku tidak berniat untuk membaca inbox WhatsApp Arka, tapi ternyata aplikasi yang terbuka saat itu adalah percakapan antara Arka dan Lingga. Tanpa sengaja aku membaca beberapa baris konversasi mereka.

"Lo gila, Ka? Emang lo mau ngerusak hubungan Karissa sama cowoknya?"

"Gw bingung, Ngga. ✓"

"Tapi nggaklah, gw ga mau perasaan gw bikin dia jadi ga mau lagi temenan sama gw. ✓"

"Emang udah lama?"

"Apanya? ✓"

"Lo suka sama Karissa nya?"

Percakapan mereka berhenti di situ, dari waktu terkirimnya, percakapan itu berakhir sebelum Arka sampai di tempat travel. Jantungku berdegup kencang. Lututku rasanya lemas. Aku tidak percaya apa yang baru saja kubaca. Maksudku, Karissa itu maksudnya.. aku? Atau ada teman wanitanya yang lain yang bernama Karissa juga? Pasti ini tentang Karissa yang lain, kan?

TOK! TOK!

Aku terperanjat saat Arka mengetuk jendela sampingku. saat itu juga aku langsung menaruh iPhone-nya kembali ke tempat semula, lalu membuka pintu sedikit.

"Apa?" aku berusaha supaya suaraku tidak bergetar.

"Punya sepuluh ribuan ga? Atau lima ribuan, gitu?" Tanyanya, ternyata Arka mau membayar bensin, di tangannya ada selembar uang seratus ribuan dan lima puluh ribu. Aku merasa runyam, tapi masih bisa konsentrasi dan mengambil selembar sepuluh ribuan dari saku tasku. Aku menyerahkannya pada Arka dan kembali menutup pintu mobil. Aku bisa mendengar suara Arka di luar, berterima kasih pada petugas pom bensin dan berjalan menuju ke samping mobil.

Dalam hitungan detik, Arka sudah duduk kembali di balik stir. Dalam hitungan detik itu pula, jantungku berdegup kencang.

Aku ini kenapa sih?

Salah tingkah, aku mengecek telepon genggamku lagi dan mengecek WhatsApp dari Fandi. Nihil. Namun, satu hal yang kulihat kali ini, Fandi ternyata belum tidur. Ia sempat online saat kubuka Whatsapp pertama kali dan ini berganti dengan tulisan last seen today at 00.28.

Pikiranku berkecamuk. Kenapa ia tidak menanyakan apakah aku sudah sampai ke kosan atau belum? Kenapa dia belum tidur?

"Sa?"

Aku memekik saat Arka mencolek bahuku. Aku yakin ekspresiku seperti baru saja melihat hantu.

"Lo kenapa sih? Serius amat lihat HP? Dicariin Fandi?"

Boro-boro, aku membatin. “Nggak, nyokap tanya aku udah sampai dimana.” Jawabku, berbohong. Arka ber-ooh panjang sambil menyalakan mesin mobil, kemudian tak lama, kami kembali berada di jalan tol.

"Emang udah lama?"

"Apanya?"

"Lo suka sama Karissa nya?"

 Aku mendesah panjang, isi percakapan Arka dan Lingga kembali berputar di ingatanku. Rasanya perutku mulas. Bagaimana bisa? Aku terus berdoa kalau Karissa yang Lingga maksud bukan Karissa yang sedang duduk di mobil Arka kali ini. Semoga prasangkaku salah. “Ka, nanya dong,”

"Hmm?"

"Lagi ada cewek yang kamu suka ga?" Tanyaku sambil menggigit bibir. Pelan.

Untuk kedua kalinya, selama perjalanan, Arka menatap ke arahku sebentar, kemudian kembali menyetir. “Kenapa kok—tiba-tiba nanya gitu?”

Aku berdeham sedikit dan berusaha terdengar santai. “Yah, udah mau tahun baru gitu. Besok. Masih aja jomblo. Anak-anak malah banyak yang udah pada sebar undangan.”

Arka tertawa miris. “Ternyata lo sama kepo-nya ya, sama orang-orang yang nanya ‘kapan nikah’?”

"Ih, aku nih peduli kali. Bukan cuma kepo.” Belaku.

Lelaki di sampingku itu tersenyum. “Ya ada, lah, Sa. Tapi kalau ceweknya gak suka sama gue ya gue mesti gimana dong?”

"Cari cewek lain dong." Jawabku langsung, sambil melempar pandangan ke luar jendela samping. "Emang siapa sih, cewek ini? Kok kamu gak pernah cerita?" tanyaku, memancing.. di air keruh. Tentu saja Arka tidak akan menjawabnya, kecuali kalau benar Karissa yang ia sukai adalah benar-benar Karissa yang lain.

"Yah.. pokoknya.. ada, lah." Arka tersenyum. Namun aku yakin pandangannya menerawang.

"Kok, kamu gak PDKT?"

"Apaan PDKT? Anak SMA kali, PDKT." Tawa Arka meledak. Aku jadi merasa malu. Segitu ABG-nya ya istilah PDKT ini?

"Issh.. ya apa gitu, kasih sinyal kalau kamu suka sama dia. Kamu kan orangnya ga ekspresif. Mana ada cewek yang tahu kalau lagi ditaksir sama Arka Anugerah." Aku menoleh ke arahnya. Arka masih tersenyum.

"Gak perlu sinyal, kali, Sa. Kalau gue suka sama cewek, gue akan selalu melindungi cewek itu. Terlepas dari dia suka apa nggak sama gue. Bahkan walaupun dia gak tahu kalau gue ada." Jelasnya.

Aku menatap Arka lekat-lekat.

Tapi nggaklah, gw ga mau perasaan gw bikin dia jadi ga mau lagi temenan sama gw.

You sound like an emo.” Aku mencibir. Aku menghela napas panjang akhirnya. “Ya udah, aku doain, tahun 2014 kamu gak jomblo lagi.”

Arka menatapku lagi. Kali ini senyumnya lebih ceria dari sebelumnya. “Nah, gitu dong.” Tangan kirinya menjulur dan mengacak-acak rambutku. Aku menggerutu karena rambutku jadi berantakan. Ia malah tertawa renyah.

Jantungku berdegup kencang lagi tiba-tiba, gigiku terasa ngilu.

Astaga, tidak boleh. Aku sudah punya Fandi.

Bandung, 31 Desember 2013, 23:59.

Aku berjalan mendekat, namun tiba-tiba napasku tercekat. Aku tidak percaya apa yang kulihat. Saat orang-orang sudah mulai berhitung mundur serempak dari sepuluh, tenggorokanku malah tercekat.

Satu hal yang kusesalkan, ini bukan mimpi.

Saat orang-orang mulai berhitung mundur, aku melihat Fandi berdiri beberapa meter di hadapanku, memunggungiku. Tangannya melingkar di bahu seorang gadis.

Tiga!

Aku ingin menjerit memanggilnya. Menanyakan siapa gadis itu. Namun membuka bibir saja rasanya tidak bisa.

Dua!

Wajah mereka saling mendekat. Lututku benar-benar lemas.

Satu!

Air mata akhirnya muncul dari pelupuk mataku.

Selamat tahun baru!

Bibir mereka saling bersentuhan di depan mataku.

Tepat di detik pertama tahun yang baru, aku menangis sejadi-jadinya. Di antara semua orang yang menjerit bahagia di awal tahun.

…Tuhan, ini mimpi, kan?

Bandung, 31 Desember 2013, 21:20.

Aku turun dari mobil Arka, sekitar sepuluh meter dari gerbang Cihampelas Walk. Aku bercermin di spion sebentar, bergantung pada cahaya lampu dari toko-toko sekitar untuk memastikan rambutku tidak berantakan.

"Udah, Sa, udah cantik. Udah sih, di dalem juga pasti kucel lagi, orang penuh gini kayak pasar." Arka tiba-tiba menurunkan kaca jendela samping spion. Aku mendesis ke arahnya sambil melotot. Arka cekikikan di jok sopirnya. "Beneran gak usah gue anter ke dalem?"

"Gak usah, udah sana gih, ke PVJ, ntar ga keburu count down-nya.” Jawabku sambil bergaya mengusirnya dengan tangan kananku. Arka tersenyum. Mobil Arka kemudian berlalu dari hadapanku.

Setelah apa yang kubaca dari inbox-nya tadi malam, aku tersenyum. Aku menyesal sempat merasa ingin menjauh darinya. Ternyata Arka benar-benar tidak mengubah semua perlakuannya padaku. After all, terlepas dari seperti apa perasaannya kepadaku, he’s still my best friend. He’s the best person I know.

Aku melangkahkan kakiku menuju ke dalam gerbang Ciwalk dengan perasaan excited. Tadi pagi aku sempat menghubungi Sandra, teman sekantor Fandi, menanyakan keberadaan pacarku itu. Aku bilang supaya Sandra merahasiakan kedatanganku ke Bandung, supaya kejutan ini bisa berjalan mulus.

Seperti apa ya, ekspresi Fandi saat melihat ku tiba-tiba mucnul nanti malam?

Aku benar-benar tidak bisa menahan senyumku.

Bandung, 1 Januari 2014, 00:01

Aku menangis seperti bocah yang kehilangan mainan terakhirnya. Aku melangkah mundur menjauhi Fandi dan gadis itu. Aku benar-benar blank. Rasanya aku nyaris gila. In fact, he surprised me instead.

Di antara sisa kesadaranku, aku mengangkat HP-ku, dan menghubungi satu-satunya nomor yang terlintas di benakku.

"Halo?"

That familiar voice helps me get my grip back somehow.

"Halo, Ka. Fandi—.." kataku terbata-bata, napasku tersendat, aku masih sesegukan. "Fandi—.."

Arka tidak bersuara apa-apa di seberang telepon sana. Aku malah menghabiskan pulsaku menangis di telepon.

"Maap, Ka. Aku malah nangis di telepon." Lanjutku sambil mengusap air mataku dengan lengan jaketku. Perih, tapi aku tidak peduli. "Arka, tadi aku lihat Fandi—.."

"Sssh, gue lihat semuanya, Sa."

Aku terkesiap. Arka.. lihat semuanya? “Apa maksudnya? Gimana ceritanya—..”

"Lihat ke belakang, Sa." Potongnya.

Aku segera menyeka air mata dan menenangkan ritme napasku. Aku segera menoleh ke belakangku. Tak jauh beberapa meter di antara kerumunan itu, aku melihat Arka berdiri di sana. Ia lalu melambaikan tangannya ke arahku, pelan, satu tangannya memegang iPhone-nya.

Bukannya berhenti nangis, tangisanku malah pecah semakin keras saat melihatnya saat itu. Buncahan sedih, kaget, bahagia, dan semua perasaan yang campur aduk di menit-menit awal tahun baru. Arka memutuskan sambungan teleponnya. Ia kemudian beranjak melangkah ke tempatku menangis.

"Kalau gue suka sama cewek, gue akan selalu melindungi cewek itu… Bahkan walaupun dia gak tahu kalau gue ada."

* * *

http://bentangpustaka.com/wp-content/uploads/banner_nulis_kilat.png

#NulisKilat @_PlotPoint @BentangPustaka

aurorae:

. (by datatw)

Itulah kita,

Satu imajinasi,

Bahkan tanpa konspirasi sebelumnya.

Kamu selalu bilang kan, kita ini jagoan?

  • Guy: "You smoke? I never knew you smoke."
  • Girl: (Chuckled) "Now, you know. What, you're gonna hate me now?"
  • Guy: "Well.. no. But, why d'you smoke? I mean, how could you like smoking?"
  • Girl: "Hell no, I don't like smoking. It tastes like shit. I just wanted to look cool. You know, people look cool while smoking."
  • Guy: (laughs) "You know what, if it's true then.. I'd prefer hot looking people. You're already look smoking hot, you don't need to smoke."
  • Girl: (stares, smiles, and throw away the cigarette)

Indonesian horror game, download the demo here.

Lumayan anak-anak main di him jerit-jerit dan pas beres baru sadar klo tadi itu malem Jumat. Thank God Jansen ga ke him hari (dan malem) ini!!

View Post

Wisnite ini rame parah. Gw sekarang menjauhi hingar bingar acara anak-anak di bawah dulu. Makanannya enak. Well done adik-adik sadonyo. hahaha, tar aja ya gw mucul lagi pas evaluasi (nasib Kesra!).

Perihal best part tadi adalah bagian video klip Gee…

View Post